• Perekonomian Indonesia: Masalah, Evaluasi, dan Masa Depan

    Date: 2010.12.03 | Category: IPB | Tags:

    Oleh: Ahmad Fariz Viali, Wakil Ketua BEM FEM IPB 2010

    Perekonomian bukan ‘obrolan’ baru bagi sebagian besar mahasiswa, terlebih bagi mahasiswa yang bergelut pada bidang tersebut. Ditinjau dari sisi perekonomian, Indonesia memiliki potensi yang sangat besar untuk mengembangkan perekonomiannya ke arah yang lebih maju. Namun, potensi yang besar ini selalu terhambat oleh berbagai permasalah ekonomi yang terjadi. Masih teringat dibenak kita awal tahun 2010 kaum intelek Indonesia hangat membicarakan mengenai ASEAN-China Free Trade Agreement (ACFTA), kesepakatan tersebut seolah datang tiba-tiba dan dipandang dapat mengancam perekonomian Indonesia. Masalah ini seolah menutup potensi yang dimiliki oleh Indonesia yang sebenarnya dapat bersaing dalam perdagangan bebas ini jika dipersiapkan secara matang.

    Terlepas dari semua itu, masalah perekonomian dalam negeri juga beragam mulai dari kasus mafia pajak yang digawangi oknum bernama Gayus Tambunan hingga dihasilkan kerugian mencapai miliaran rupiah, sampai yang masih hangat diperbincangkan yakni penjualan Initial Public Offering (IPO) PT.Krakatau Steel yang merupakan perusahaan unggulan BUMN. Permasalahan yang terjadi mengenai penetapan harga saham yang terlalu rendah serta proses penjatahan saham yang disinyalir telah diatur sehingga dapat menguntungkan beberapa pihak. Peristiwa di atas tidak bisa didiamkan hingga menguap begitu saja seperti kasus Century Gate dan kasus perekonomian lainnya. Perlu ada penelurusan khusus serta pengawalan oleh masyarakat yang cerdas dan tanggap akan hal semacam ini. Seluruh Kebijakan pemerintah terkait bidang perekonomian harus kita kawal dan dukung jika hal tersebut benar pro pada rakyat.

    Masih teringat jelas dalam ingatan kita kunjungan singkat Presiden Barack Obama pada 9-10 November 2010 lalu serta kunjungan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dalam KTT G-20 pada 11-12 November 2010 di Seoul, Korea Selatan, dan KTT Asia-Pasific Economic Cooperation (APEC) pada 13 November 2010 di Yokohama, Jepang, selayaknya berdampak positif terhadap perekonomian Republik Indonesia. Hasil yang diperoleh dari pertemuan-pertemuan ini hendaknya menciptakan keselarasan antara pembangunan perekonomian makro dan mikro. Pembangunan perekonomian ini tentu harus didorong oleh kondisi bangsa yang stabil baik politik maupun sosial.  Proporsionalitas antara pertumbuhan ekonomi 6-7% yang diraih harus selaras dengan banyaknya lapangan kerja yang terbuka serta penurunan angka kemiskinan.

    Pekerjaan Rumah SBY–Boediono tampaknya cukup banyak dan harus segera dituntaskan karena akan berdampak lebih besar lagi terhadap perekonomian negara dan rakyat yang merasakannya. Potensi yang dimilki Indonesia seharusnya disetting untuk visi yang sustainable dalam jangka panjang dan bukan hanya untuk masa pemerintahan lima tahun saja. Era globalisasi yang lebih kompleks sedang menunggu Indonesia untuk ikut dalam kancah persaingan global. Evaluasi mengenai kebijakan pada tahun 2010 serta memperbaiki kesalahan yang ada untuk tahun-tahun berikutnya merupakan salah satu langkah yang harus ditempuh agar tidak terjebak dalam permasalahan yang sama. Dibutuhkan koordinasi yang baik dan langkah yang strategis, serta pengorbanan dari pemerintah maupun seluruh rakyat untuk menciptakan perekonomian Indonesia yang maju di masa yang akan datang.