• SOSPOL

    FISSI

    FISSI INDONESIA merupakan Forum Kajian Ekonomi Indonesia yang merupakan suatu acara diskusi yang dilaksanakan oleh Departemen Perekonomian BEM FEM IPB. Merupakan acara yang akan dilaksanakan sebanyak enam kali selama periode BEM FEM 2009-2010. Acara FISSI INDONESIA dilaksanakan pada hari Rabu 24/2 2010 pukul 16.00-17.30 WIB. Acara FISSI INDONESIA dihadiri oleh 40 peserta dari mahasiswa FEM IPB. Pembicara yang dihadirkan pada FISSI INDONESIA adalah ibu Widyastutik, M.Si dosen dari departemen Ilmu Ekonomi. Tema FISSI kali ini menyoroti tentang “DAMPAK ASEAN-CHINA FREE TRADE OF AGREEMENT TERHADAP PERTANIAN INDONESIA.” Isi dari diskusi kali ini dipaparkan oleh ibu Widiyastutik, M.Si berupa penjelasan skema perdagangan FTA ASEAN – CHINA, kemudian dampak terhadap makroekonomi Indonesia khususnya pertanian Indonesia. Kepala negara menyepakati pembentukan suatu kerja sama ekonomi dan pendirian suatu kawasan perdagangan bebas. Ruang lingkup kerja sama FTA adalah (1) Liberalisasi perdagangan barang, (2) liberalisasi perdagangan jasa, (3) liberalisasi investasi, (4) ketja sama di bidang ekonomi lainnya—sektor pertanian, teknologi informasi dan komunikasi, dan pengembangan sumber daya manusia. Kerja sama-kerjasama tersebut merupakan liberalisasi perdagangan barang, sehingga mengurangi/menghilangkan tarif bea masuk. China merupakan salah satu mitra dagang Indonesia, yang menempati posisi ke-4 setelah Jepang, Amerika Serikat, dan Singapura sebagai negara tujuan ekspor. Rata-rata pertumbuhan Indonesia ke China mencapai 25,54 persen antara tahun 2001-2006. Ekspor China ke Indonesia jauh lebih besar yaitu US$15,2 triliun dibandingkan dengan ekspor Indonesia ke China hanya US$11,5 triliun. Dalam pertemuan puncak antara negara-negara anggota ASEAN dan Republik Rakyat Chian pada tanggal 6 November 2001 di Bandar Seri Begawan, Brunei Darussalam, para kepala negara atau kepala pemerintah dari masing-masing negara telah menyepakati pembentukan suatu kerangka kerja mengenai kerja sama ekonomi dan pendirian suatu kawasan perdagangan ACFTA. Pertemuan ini ditindaklanjuti dengan penandatanganan “Persetujuan Kerangka Kerja Mengenai Kerjasama Ekonomi menyeluruh antara Negara-negara ASEAN dan RRC.” Dan pada tahun 2010 ini tengah dimulai pelaksanaan FTA ASEAN –China. Meningkatnya volume perdagangan karena FTA secara teori akan mendatangkan multiplier effect terhadap kegiatan ekonomi lainnya yang mungkin akan membawa perubahan tarhadap kondisi makroekonomi dan sektoral ekonomi jika kesempatan memperluas pasar dilaksanakan. Analisa dampak ekonomi makro (kesejahteraan, pertumbuhan ekonomi, inflasi, konsumsi pemerintah dan swasta, neraca perdagangan, dan volume dan harga investasi) dan ekonomi sektoral (output, harga, ekspor-impor, dan tenaga kerja sektoral) dilakukan dengan model GTAP (Global Trade Analysis Project) 113 negara dan 57 sektor. Pengaruh penghapusan tarif berdampak pada peningkatan kesejahteraan semua Negara anggota ASEAN-5 yang terlihat dari adanya peningkatan nilai equivalent variation di China dan masing-masing Negara ASEAN-5, dengan peningkatan yang jauh lebih besar daripada di China. Peningkatan y6ang terjadi di ASEAN-5 terjadi karena adanya trade creation effect dimana kesejahteraan masyarakat meningkat kerena memperolah barang dengan harga yang relative lebih murah. Namun demikian, peningkatan yang disebabkan oleh kenaikan investasi mempunyai pengaruh yang lebih besar terhadap kenaikan GDP riil daripada pengaruh karena kenaikan konsumsi. GDP deflator yang meningkat menunjukan bahwa FTA ASEAN-China tidak serta merta menaikan produktivitas meningkat sehingga biaya produksi turun. GDP deflator Indonesia meningkat lebih besar daripada China. Dampak secara makro yang lain dapat dilihat dari neraca perdagangan. Neraca perdagangan Indonesia negative. Peningkatan TOT yang disebabkan perubahan harga ekspor lebih tinggi dibandingkan harga impor sehingga impor Indonesia lebih besar daripada ekspor. Implikasinya Indonesia harus meningkatkan daya saing melalui penyerapan teknologi. Berdasarkan analisis IO, tidak terjadi perubahan structural yang cukup berarti pada industry Indonesia yang menunjukan stagnasi penguasaan dan penerapan teknologi. Da;am menghadapi FTA ASEAN-China Indonesia menghadapi tantangan untuk meningkatkan daya saing yang mutlak diperlukan untuk memperoleh manfaat dari perdagangan. Tidak cukup hanya mengandalkan keunggulan komparatif. FTA ASEAN-China merupakan peluang bagi Indonesia untuk memperluas pasar ekspor dan investasi ke China jika industri Indonesia mampu meningkatkan daya saing.strateginya adalah perbaikan iklim investasi di dalam negeri dan memperkuat intelejn pasar internasional untuk menganalisis komoditas yang diminati konsumen luar negeri. Tentu saja diperlukan respon penawaran yang cepat dengan manajemen rantai pasokan untuk memenuhi keinginan konsumen dengan kualitas, waktu, harga dan jumlah yang tepat. Menarik diri dari perjanjian FTA yang telah disepakati atau menerapkan hambatan non tarif kecil skala kemungkinannya karena kan terjadi retalisasi (pembalikan) dari Negara lain, kecuali Indonesia dapat memberikan argument ilmiah yang dapat diterima. Contohnya Negara maju seperti Australia menerapkan Bio-scurity Act untuk menghambat masuknya produk pertanian dan kebijakan tersebeut memerlukan biaya yang besar tapi berhasil menghambat masuknya produk pertanian ke Indonesia.